Indonesian's Radio


If we believe  

Posted by SMANSA 84

Maha Kuasa Tak Pernah Tidur, selalu jaga tak pernah tua. Lebih luas dari angkasa, lebih tua dan lebih muda dari masa.

Itu sebait lagu yang pernah aku nyanyikan ketika menjadi backsoundnya drama musikal sangkuriang hampir 20 tahun yang lalu. Tapi bait itu begitu melekat, dan selalu aku senandungkan ketika gelisah melanda jiwa.

Kekuasaan Tuhan, Allah yang Esa, benar-benar luas, dalam dan tak terduga. Jika kita percaya dan bersedia meminta kepadanya dengan sungguh-sungguh tak ada yang tidak diberikanNYA.

I believe of law of attraction, aku praktekkan dan aku membuktikan kebenarannya. Ikhlas kunci utamanya.

Beberapa hari ini, aku merasakan keajaiban dari segala apa yang pernah aku mintakan kepada Allah, baik secara lisan dalam doa, maupun secara tertulis dalam vission board. Luar biasa. Ia memberi apa yang aku mau. Bukan hanya seperti yang aku minta tapi lebih dari yang aku duga.

Subhaballah, hanya itu kata yang bisa diucapkan. Ini juga bagian dari the miracle of giving yang aku percayai. Luar biasa sungguh, semakin banyak memberi kemudian melupakannya. Berkali lipat aku mendapatkannya.

Alhamdulliah.. alhamdulillah.
If we believe, there is nothing impossible.
Mintalah kepadaNya,..... maka IA akan memberikannya. Ikhlas dan bersyukurlah dengan segala pemberiannNya... suka maupun duka. Maka IA akan melipat gandakannya.

By Yenni Sis

Ekonomi Negara dan Belanja Pribadi  

Posted by SMANSA 84

Kemarin siang, waktu saya belanja di supermarket untuk kebutuhan masak memasak selama seminggu, seorang bapak yang, maaf, agak bau badan antri untuk membayar di depan saya. Semula saya agak menghindar dengan mengambil jarak mundur karena terus terang, bau badannya agak mengganggu. Waktu dia maju ke depan kasir untuk membayar saya sempat melirik belanjaannya. Dua susu milkuat, dua chiki bungkus kecil dan dua bungkus wafer tango kecil. Dibayarnya dengan uang sepuluhribuan kumal yang sudah sedari tadi dilipat di dalam genggaman tangannya. Kasir masih memberi uang kembalian atas uang itu yang dengan hati-hati dihitungnya lalu dimasukkan kedalam kantongnya.
Tanpa tau sebabnya saya lalu merasa sedih, sekaligus terharu. Saya bayangkan dua orang anak bapak itu yang entah sedang menunggu dimana, dengan senangnya menerima belanjaan jajanan bapaknya itu. Mungkin mereka berencana untuk pergi ke kebun binatang dan jajanan itu adalah bekalnya. Mungkin bapaknya menerima upah lebih hari itu dan teringat untuk membahagiakan anaknya dengan membelikan jajanan itu.

Tanpa sadar juga saya lalu melirik roda belanjaan saya. Ada kripik kesukaan anak saya 2 kantong dengan rasa berbeda. Ada susu cair dan jus buah kemasan besar yang pasti akan dihabiskan dalam 2 hari. Ada mangga untuk suami, anggur untuk anak saya (yang kadang2 busuk di kulkas karena kelupaan tidak dimakan).

Saya jadi merasa malu. Dalam sekali pembelanjaan saya mungkin menghabiskan beberapa kali lipat pembayaran bapak itu, tapi terkadang saya membelinya hanya karena ingin, takut kulkas kosong, takut sedang ingin sesuatu tapi tidak punya persediaan makanan dll. Seakan-akan perang dunia ketiga sudah di depan mata. Sementara bapak tadi mungkin betul2 membeli jajanan itu karena anaknya jarang2 menikmati makanan itu atau karena baru punya uang lebih hari ini. Walaupun mungkin ini hanya persangkaan atau asumsi saja…. Tapi toh nyatanya banyak orang yang keadaannya seperti yang saya bayangkan itu… Dengan keadaan ekonomi Negara yang sedang terpuruk begini, bukankah baik kalo kita secara pribadi berinisiatif untuk lebih berhemat dan berhitung dalam berbelanja. Saya percaya, kemakmuran bersama akan lebih cepat tercapai, dibandingkan kalau kita masing2 menghamburkan uang secara tidak bijaksana.

Siang itu saya jadi banyak merenungi masalah itu. Tapi sesampainya di rumah, si mbak yang membongkar belanjaan berkomentar : Bu, telur di kulkas tinggal separuh (maksudnya separuh tempat telur di kulkas) kok Ibu gak beli lagi?. Lalu saya otomatis merasa menyesal dan ingin kembali lagi ke supermarket karena sebetulnya tadi saya lihat harga telur sedang murah. Renungan saya tentang hidup hemat itupun terlupakan begitu saja…..

By Niken Savitri

Sepeda kalahkan Penduduk Belanda.  

Posted by SMANSA 84

Bersepeda adalah salah satu praktek yang dapat dilakukan untuk mengamankan bumi yang hanya satu ini dari degradasi ekologis.

Selain menyehatkan badan, sepeda tidak menimbulkan polusi gas karbondioksida maupun karbon monoksida. Karena konsep yang ramah lingkungan ini, sepeda merupakan moda dtransportasi utama di Belanda.

Seperti dikutip situs "bicycle victoria", Minggu (9/5), di Belanda jumlah sepeda lebih besar daripada jumlah penduduk.

Masyarakat di negara Kincir Angin ini merupakan pengguna sepeda terbesar di dunia. Dengan penduduk sekitar 16 juta, jumlah sepeda di negara yang luasnya sebesar Jawa Barat itu, adalah 18 juta. Hal ini berarti, di setiap rumah, terdapat lebih dari satu sepeda. Rasio penggunaan sepeda pun lebih tinggi daripada penggunaan kendaraan bermotor, masing-masing 8,6 persen dan 8,2 persen. Dengan budaya bersepeda itu, tidak heran Belanda dikenal sebagai negara yang ramah lingkungan. (A-133/A-26).*** (kutipan dari Pikiran Rakyat Online, 10/5)

"Mari kita masyarakatkan penggunaan sepeda sebagai alat transportasi ramah lingkungan".

By Wing Pandoe

Harry Roesli - Jangan Menangis Indonesia  

Posted by SMANSA 84

Alasan Fatwa haram Facebook  

Posted by SMANSA 84

Sudah muncul wacana yang berasal dari ulama Jawa Timur bahwa Facebook diharamkan. Tentunya wacana ini agak mengagetkan para Facebooker di tanah air. Namun sebenarnya kita harus bisa intropeksi diri mengapa wacana ini bisa muncul.

Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa Facebook diharamkan:

1. Facebook bisa membuat kita mengabaikan anak.


2.Facebook membuat kita tidak ingin meninggalkan komputer kita



3.Facebook membuat kita tidak memperhatikan keadaan sekeliling kita


4.Facebook membuat tubuh kita kurus karena lupa makan.

5.Facebook juga dapat membuat obesitas merajalela. Karena memang tidak mengasikkan jika tidak sambil ngemil.


6.Facebook tidak mengenal usia. Sampai balitapun menjadi Facebooker.


7. Facebook membuat kita menjadi tidak focus pada 'kewajiban' kita.