Indonesian's Radio


Ekonomi Negara dan Belanja Pribadi  

Posted by SMANSA 84

Kemarin siang, waktu saya belanja di supermarket untuk kebutuhan masak memasak selama seminggu, seorang bapak yang, maaf, agak bau badan antri untuk membayar di depan saya. Semula saya agak menghindar dengan mengambil jarak mundur karena terus terang, bau badannya agak mengganggu. Waktu dia maju ke depan kasir untuk membayar saya sempat melirik belanjaannya. Dua susu milkuat, dua chiki bungkus kecil dan dua bungkus wafer tango kecil. Dibayarnya dengan uang sepuluhribuan kumal yang sudah sedari tadi dilipat di dalam genggaman tangannya. Kasir masih memberi uang kembalian atas uang itu yang dengan hati-hati dihitungnya lalu dimasukkan kedalam kantongnya.
Tanpa tau sebabnya saya lalu merasa sedih, sekaligus terharu. Saya bayangkan dua orang anak bapak itu yang entah sedang menunggu dimana, dengan senangnya menerima belanjaan jajanan bapaknya itu. Mungkin mereka berencana untuk pergi ke kebun binatang dan jajanan itu adalah bekalnya. Mungkin bapaknya menerima upah lebih hari itu dan teringat untuk membahagiakan anaknya dengan membelikan jajanan itu.

Tanpa sadar juga saya lalu melirik roda belanjaan saya. Ada kripik kesukaan anak saya 2 kantong dengan rasa berbeda. Ada susu cair dan jus buah kemasan besar yang pasti akan dihabiskan dalam 2 hari. Ada mangga untuk suami, anggur untuk anak saya (yang kadang2 busuk di kulkas karena kelupaan tidak dimakan).

Saya jadi merasa malu. Dalam sekali pembelanjaan saya mungkin menghabiskan beberapa kali lipat pembayaran bapak itu, tapi terkadang saya membelinya hanya karena ingin, takut kulkas kosong, takut sedang ingin sesuatu tapi tidak punya persediaan makanan dll. Seakan-akan perang dunia ketiga sudah di depan mata. Sementara bapak tadi mungkin betul2 membeli jajanan itu karena anaknya jarang2 menikmati makanan itu atau karena baru punya uang lebih hari ini. Walaupun mungkin ini hanya persangkaan atau asumsi saja…. Tapi toh nyatanya banyak orang yang keadaannya seperti yang saya bayangkan itu… Dengan keadaan ekonomi Negara yang sedang terpuruk begini, bukankah baik kalo kita secara pribadi berinisiatif untuk lebih berhemat dan berhitung dalam berbelanja. Saya percaya, kemakmuran bersama akan lebih cepat tercapai, dibandingkan kalau kita masing2 menghamburkan uang secara tidak bijaksana.

Siang itu saya jadi banyak merenungi masalah itu. Tapi sesampainya di rumah, si mbak yang membongkar belanjaan berkomentar : Bu, telur di kulkas tinggal separuh (maksudnya separuh tempat telur di kulkas) kok Ibu gak beli lagi?. Lalu saya otomatis merasa menyesal dan ingin kembali lagi ke supermarket karena sebetulnya tadi saya lihat harga telur sedang murah. Renungan saya tentang hidup hemat itupun terlupakan begitu saja…..

By Niken Savitri

This entry was posted on Rabu, Juni 03, 2009 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 comments