Indonesian's Radio


Makna Cinta di Pagi Hari  

Posted by SMANSA 84

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan banyak pemandangan menarik selagi menunggu jadwal konsultasi dengan wali kelas anak saya. Karena saya harus mengantarkan anak saya pemantapan yg dimulai jam 06.15 sedangkan konsultasi dan pembagian report dilakukan jam 07.00, maka saya duduk di parkiran sambil membaca draft skrispsi mahasiswa saya sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang di seputaran kompleks sekolah yang terdiri dari SD, SMP dan SMA.

Beberapa sempat saya tangkap dan karena sedang melankolis, saya hubungkan dengan arti cinta.Seorang siswa SMP menuntun adiknya yang berseragam SD menyeberang jalan dan mengantarkan adiknya hingga ke gerbang. Sebuah mobil mewah berhenti di seberang jalan, seorang ibu duduk di kursi penumpang. Anaknya turun bersama dengan sang supir dan mengelendot manja kepada pak supir sambil berbincang akrab memasuki gerbang sekolah. Seorang siswa SMA turun dari angkot yang dinaiki bersama dengan guru atau pegawai tata usaha sekolahnya, tanpa menoleh dia langsung membayar pada supir angkot dan ngeloyor bapak guru/pegawai tata usaha itu tanpa berpamitan atau menyapa lagi. Lalu yg membuat trenyuh...seorang bapak (usia sekitar 30-40 an) dengan vespa tuanya memboncengkan anak remajanya yg berseragam SMP. Si anak turun dari motor dan langsung sibuk dengan rambutnya yg kusut karena helm, tanpa menoleh lagi kepada bapaknya langsung memasuki sekolah. Si bapak dengan wajah kagum, bangga dan cinta memandang hingga anaknya jauh, masuk ke dalam sekolah.

Ah...berbagai perasaan melanda saya. Ternyata cinta banyak wujudnya. Bisa berupa seorang kakak terhadap adiknya, bisa cinta supir kepada anak majikannya, bisa seorang bapak kepada anak gadisnya... Apakah ibu yg hanya duduk di mobil itu cinta kepada anaknya...pastinya iya, dan kita gak pernah tau apa alasannya dia tidak turun dan mencium anaknya atau sekedar melambaikan tangan. Itu bukan bukti dia tidak mencintai anaknya. Siswa SMA yg acuh terhadap gurunya..bukan berarti tidak cinta atau tidak hormat, mungkin takut atau segan atau malu.

Saya mengingat kembali cinta dua arah antara saya dan anak saya, apakah dia memandang cinta saya seperti saya merasakannya..? Apakah dia tau betapa saya jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama di rumah sakit bersalin beberapa belas tahun yang lalu? Mungkin dia juga terkadang ragu...karena saya sering mewujudkannya dalam marah2 saya, dalam cerewet saya, dalam kekhawatiran yang berlebihan (lebai...katanya). Tapi semoga cinta selalu dapat dimaknai dalam olehnya dan oleh orang-orang yang saya lihat pagi itu...Bukan sekedar perilaku, tapi apa yang terkandung di baliknya...

By Niken Savitri

This entry was posted on Minggu, Mei 24, 2009 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langganan: Posting Komentar (Atom) .

0 comments